Para pejuang pendidikan Pacitan masuk dalam Top 35 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Jawa Timur (Kovablik) 2018.

 

Pemerintah Provinsi Jawa Timur dikenal sebagai Gudangnya Inovasi Pelayanan Publik. Hal ini tentu saja ada sebabnya. Dengan tidak segan-segannya Pemrov Jatim menggerakkan Pemerintah Kabupaten Kota dan SKPD di lingkungan Pemprov Jatim  untuk  meluncurkan inovasi dan praktek baiknya.

Kali ini, Kabupaten Pacitan kembali berhasil masuk dalam 35 besar inovasi terbaik yang digelar dalam Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Jawa Timur Tahun 2018.  Melalui Inovasi bidang pendidikan yaitu “PENCARI SURGA” dan “SEPATU KITA”, Kabupaten Pacitan lolos dan mendapat kunjungan lapangan oleh Juri Independen.

Prestasi ini tidak begitu saja diperoleh, melainkan melalui beberapa kali tahapan. Tahap pertama adalah seleksi administrasi, kemudian dilanjutkan dengan presentasi di hadapan lima dewan juri independen, kemudian dilanjutkan dengan peninjauan lapangan ke lokasi inovasi.

Pada tanggal 25 sampai dengan 26 September kemaren, Tim Juri Independen yang diketuai oleh Redhi Setiadi, melakukan kaji lapangan. Beliau melihat dengan cermat dan teliti inovasi yang diterapkan. Tidak hanya melakukan wawancara dengan para pejabat, tetapi mencari informasi langsung dari penerima manfaat inovasi.

          Pencari Surga merupakan kepanjangan dari Perencanaan Berbasis Survei Pengaduan. Inovasi ini sudah dilaksanakan semenjak tahun 2013 dan sampai saat ini sudah dilakukan pada 19 sekolah di wilayah Kabupaten Pacitan. Keberhasilan penerapan inovasi Pencari Surga ini tidak lepas dari dukungan multi pihak, yaitu pengurus komite sekolah, orang tua siswa, kepala desa, Pemkab Pacitan dan Institusi lain sebagai fasilitator.

Demikian juga dengan inovasi Sepatu Kita, yang muncul karena permasalahan mendasar yang dihadapi di sekolah. Banyaknya anak yang terlambat masuk sekolah bahkan sampai tidak masuk sekolah, memunculkan rasa keingintahuan bapak ibu guru untuk persoalan ini. Setelah dijaring, ternyata permasalahan ada pada angkutan dan jarak tempuh anak yang sering terlambat.

Kondisi ini akhirnya memunculkan gagasan untuk membuat anak-anak yang sering terlambat untuk dibuatkan pemondokan di sekolah, sehingga dapat mengikuti kegiatan sekolah tepat waktu. Setelah terealisasi, kemudian muncul ide lagi, bahwa ketika anak di pemondokan harus ada kegiatan yang dapat menambah ilmu, wawasan dan ketrampilan. Sehingga muncullah SEPATU KITA (sekolah dapat upah, ketrampilan tambah). Siswa yang mondok, selain kegiatan mengaji dan ilmu agama juga  diberikan tambahan budidaya jamur. Jamur ini dijual mentah maupun yang sudah diolah. Keuntungan dari hasil budidaya jamur juga diberikan kepada anak, untuk subsidi makan sehari-hari diberikan Rp. 10.000,00 per anak per bulan. Untuk konsumsi anak, orang tua diberikan kewajiban untuk membayar Rp. 225.000 (dua ratus dua puluh lima ribu rupiah) per bulan untuk makan sehari 3 kali. Inovasi ini tidak surut semangatnya walaupun sekolah SMP N 1 Arjosari mendapatkan dampak yang paling besar dari banjir di akhir tahun 2017 lalu.

Harapannya terhadap kedua inovasi tersebut dapat direplikasi ke sekolah lain, baik dengan bentuk yang sama maupun dengan modifikasi. Pemerintah Daerah selaku pembina Pelayanan publik, memiliki kewajiban untuk membina dan memberikan motivasi kepada semua unit kerja untuk berinovasi.

 

Para pejuang pendidikan Pacitan masuk dalam Top 35 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Jawa Timur (Kovablik) 2018.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *