
Pemerintah Kabupaten Pacitan terus memperkuat langkah strategis dalam pengembangan sektor seni, budaya, dan pariwisata. Salah satu upaya konkret tersebut diwujudkan melalui kunjungan Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji, ke Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada Kamis (13/11). Dalam kesempatan ini, Bupati Pacitan didampingi Bupati Ngawi untuk melakukan audiensi sekaligus membuka peluang kerja sama dengan pihak ISI Yogyakarta dalam pengembangan kesenian dan kebudayaan daerah.
Dalam agenda yang berlangsung hangat dan penuh antusiasme tersebut, Bupati Indrata menyampaikan bahwa Pacitan memiliki potensi seni dan budaya yang sangat kuat untuk dikembangkan lebih jauh. Selain pariwisata, Pacitan dikenal sebagai daerah yang kaya akan seni tradisi dan budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Banyaknya sanggar seni yang aktif di berbagai kecamatan menjadi bukti bahwa minat masyarakat Pacitan terhadap seni masih sangat tinggi.
“Kami berharap mudah-mudahan ke depan bisa bekerjasama dengan ISI Yogyakarta dalam rangka mengangkat Pacitan tidak hanya dalam dunia akademisi namun juga seni, budaya, dan tradisi Pacitan,” ungkap Bupati. Ia menambahkan bahwa keberadaan para seniman dan komunitas kreatif secara tidak langsung telah memberikan kontribusi besar dalam menjaga identitas budaya Pacitan.
Menurut Bupati yang akrab disapa Mas Aji tersebut, seni tradisi yang berkembang di Pacitan seperti karawitan, tari tradisional, seni jathilan, wayang kulit, hingga seni musik kontemporer merupakan aset penting dalam membangun karakter daerah. Dengan dukungan lembaga akademik seperti ISI Yogyakarta, ia berharap berbagai seni tersebut dapat memperoleh pembinaan yang lebih terarah sehingga mampu menjadi daya tarik wisata dan meningkatkan perekonomian masyarakat.
Respons positif datang dari ISI Yogyakarta. Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, S.Sn., M.Sn., menyambut baik rencana kerja sama tersebut. Ia menjelaskan bahwa ISI Yogyakarta memiliki komitmen kuat dalam mendukung pelestarian dan pengembangan seni budaya lokal melalui sejumlah program pengabdian masyarakat.
“Kami memiliki program P3Wilsen (Program Pembinaan dan Pengembangan Wilayah Seni), yang bertujuan untuk membina, mengembangkan, dan melestarikan seni budaya lokal melalui kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat. Tentu ini akan menjadi ruang bagi kita,” ujarnya.
Program P3Wilsen sendiri telah dijalankan di berbagai daerah dan terbukti menjadi sarana efektif dalam memperkuat ekosistem seni budaya. Melalui program tersebut, ISI Yogyakarta melakukan berbagai kegiatan seperti pelatihan seni, pendampingan komunitas, pengembangan karya kreatif, hingga revitalisasi seni tradisi. Kolaborasi dengan Pemkab Pacitan diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi lahirnya inovasi seni dan budaya yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.
Selain pembinaan seni tradisi, kerja sama ini juga membuka ruang bagi peningkatan kapasitas sumber daya manusia, baik bagi para seniman lokal, pelaku komunitas, maupun pelajar di Pacitan. Tidak menutup kemungkinan, ke depan akan ada kegiatan workshop, lokakarya seni, residensi seniman, hingga pertukaran pelajar atau studi banding untuk memperluas wawasan dan keterampilan.
Dengan terjalinnya komunikasi awal ini, Pemkab Pacitan dan ISI Yogyakarta optimis bahwa kerja sama yang dibangun akan memberikan manfaat besar bagi pengembangan ekosistem seni budaya. Tak hanya memperkaya khazanah budaya lokal, tetapi juga memberikan dampak ekonomi melalui penguatan sektor pariwisata berbasis budaya.
Kunjungan tersebut menjadi tonggak penting bagi Pacitan dalam mempertegas komitmennya sebagai daerah yang tidak hanya indah secara geografis, tetapi juga kaya seni budaya. Kolaborasi dengan ISI Yogyakarta diharapkan menjadi pintu masuk bagi semakin dikenal dan dihargainya seni budaya Pacitan di tingkat nasional maupun internasional.
